Gue nggak pernah mimpi bakal menginjakkan kaki di Sumba. Bukan karena nggak mau, tapi karena dari kampung gue di pelosok Jawa Tengah, nama Sumba itu terdengar seperti negeri dongeng. Tiket pesawat mahal, kabarnya jauh, dan konon butuh biaya jutaan. Tapi tahun lalu, seorang kawan yang merantau di Kupang menelepon, bilang ada tiket promo ke Tambolaka. Gue langsung nabung dua bulan, dan berangkatlah gue dengan modal nekat plus satu tas ransel butut.
Yang gue temukan di sana bukan cuma pantai cantik. Ada hal-hal yang bikin gue sadar, traveling itu bukan soal seberapa jauh kamu pergi, tapi seberapa siap kamu menerima hal-hal yang nggak kamu duga.
Hari Pertama: Kaget Kultur di Tambolaka
Begitu keluar dari bandara kecil Tambolaka, udara panas menyengat tapi tanahnya luar biasa kering. Rumput di kiri-kanan jalan berwarna cokelat keemasan, seperti padang savana di film-film Afrika. Gue naik mobil sewaan bareng tiga orang bule yang kebetulan satu penerbangan. Sopirnya orang lokal, namanya Pak Yos, dan dia langsung cerita banyak hal sepanjang jalan.
Baca juga: Dompet Tipis, Waktu Mepeet: 3 Tempat Healing Anak Rantau
Hal pertama yang bikin gue kaget: jalanan di Sumba banyak yang belum aspal. Bukan cuma di desa, tapi di jalur utama antar-kecamatan. Jadi kalau kamu bawa koper roda, siap-siap rodanya rusak. Gue sarankan bawa ransel atau tas kain yang lentur. Kedua, sinyal HP di beberapa titik benar-benar hilang. Jadi jangan harap bisa update status tiap lima menit.
Tapi justru itu yang bikin Sumba terasa jujur. Nggak ada yang dipoles buat turis. Kalau kamu dari desa seperti gue, kamu bakal merasa akrab dengan suasana ini — cuma bedanya, di sini latarnya bukit karst dan laut biru.
Makan Pertama di Sumba: Jangan Kaget Harganya
Gue mampir ke warung sederhana di Waitabula. Pesan nasi ikan bakar, teh manis. Totalnya Rp35 ribu. Mahal? Buat ukuran kampung gue, iya. Tapi ingat, semua bahan di Sumba harus didatangkan dari luar pulau. Jadi wajar kalau harga makanan sedikit lebih tinggi. Tips praktisnya: bawa bekal seperti abon, sambal sachet, atau mie instan. Bukan buat pelit, tapi buat jaga-jaga kalau warung tutup atau kamu di lokasi yang jauh dari kota.
Hari Kedua: Desa Adat yang Bikin Merinding
Pagi-pagi gue diajak Pak Yos ke Desa Adat Praijing, dekat Waikabubak. Ini desa tradisional Sumba yang masih asli — rumah-rumah beratap alang-alang tinggi menjulang, batu kubur megalitik di tengah halaman, dan warga yang masih pakai kain tenun setiap hari. Gue nggak bisa bohong: begitu masuk, bulu kuduk gue berdiri. Bukan karena seram, tapi karena rasa hormat.
Yang penting kamu tahu sebelum ke sini: ada aturan adat yang harus dipatuhi. Nggak boleh sembarangan foto orang tanpa izin, nggak boleh masuk rumah tanpa dipersilakan, dan kalau ada upacara adat, jangan ikut-ikutan merekam pakai HP. Hormati dulu, baru dokumentasi. Ini bukan soal sopan-santun turis, ini soal kamu tamu di rumah orang.
Gue sempat ngobrol sama seorang bapak tua di sana. Dia bilang, banyak turis datang, foto-foto, lalu pergi tanpa bicara. Menurut dia, itu bikin sedih. Jadi gue coba ngobrol seadanya pakai bahasa Indonesia yang pelan. Dia cerita soal tenun ikat yang dibuat istrinya, butuh sebulan untuk satu kain. Gue beli satu syal seharga Rp250 ribu. Nggak murah, tapi gue tahu uangnya langsung ke tangan yang bikin.
Kalau kamu dari desa dan pergi ke desa orang lain, kamu punya satu kelebihan: kamu tahu rasanya jadi tuan rumah. Pakai itu buat jadi tamu yang baik.
Hari Ketiga: Pantai yang Bikin Lupa Pulang
Hari terakhir gue ke Pantai Mandorak dan Pantai Walakiri. Mandorak itu seperti kolam raksasa di antara tebing batu — airnya tenang, hijau bening, dan nggak ada penjual makanan sama sekali. Jadi bawa air minum dan camilan sendiri. Sementara Walakiri terkenal karena pohon bakau yang tumbuh di tengah laut, dan kalau sore, siluetnya bikin foto kamu kelihatan seperti lukisan.
Yang perlu kamu siapkan ke pantai-pantai ini:
- Uang tunai secukupnya. Banyak tempat di Sumba belum ada ATM, apalagi mesin EDC. Jadi tarik uang di kota sebelum berangkat.
- Sunblock dan topi. Matahari Sumba itu nggak main-main, bahkan di musim hujan.
- Sepatu atau sandal gunung. Jalannya berbatu, licin kalau habis hujan.
- Power bank. Karena listrik di penginapan kecil kadang mati tengah malam.
- Obat pribadi. Apotek terdekat bisa 1-2 jam dari lokasi wisata.
Satu hal lagi yang jarang dibahas orang: transportasi di Sumba itu susah kalau kamu nggak sewa mobil atau motor. Nggak ada ojek online, nggak ada angkot rutin. Jadi hitung-hitung biaya sewa dari awal. Kalau kamu berangkat berdua atau bertiga, sewa mobil plus sopir jadi lebih murah per orang dibanding sewa motor satu-satu.
Pelajaran Buat Kita yang dari Kampung
Pulang dari Sumba, gue sadar satu hal. Selama ini gue pikir traveling itu cuma buat orang kota yang punya duit lebih. Ternyata nggak. Yang penting itu niat, riset sederhana, dan kemauan menabung sedikit-sedikit. Gue yang cuma lulusan SMA dan kerja di warung kopi bisa ke Sumba. Kamu juga bisa.
Yang paling berharga dari perjalanan ini bukan foto di pantai atau cerita di media sosial. Tapi rasa percaya diri bahwa dunia ini lebih luas dari gang depan rumah, dan kita punya hak buat melihatnya. Cuma satu pesan gue: kalau pergi, pergilah dengan hormat. Bawa pulang cerita, jangan bawa pulang sampah atau masalah buat orang lokal.
Kalau kamu penasaran dan mau mulai, coba cari tiket promo ke Tambolaka atau Waingapu. Nabung sedikit-sedikit, ajak satu-dua kawan biar biaya sewa terbagi. Dan jangan lupa: bawa rasa ingin tahu yang lebih besar dari rasa takut.