Jujur ya, jadi ibu rumah tangga itu kadang lupa kapan terakhir kali benar-benar liburan buat diri sendiri. Bukan liburan yang mikirin bekal anak, bukan yang sambil cek grup WA keluarga. Tapi yang benar-benar buat kita. Nah, tulisan ini gue tulis khusus buat kamu yang pengen jalan-jalan ke Jogja tapi tetap santai, gak ngos-ngosan, dan gak bikin dompet menjerit.
Kenapa Jogja? Karena semuanya ada di satu kota. Mau budaya, kuliner, alam, atau sekadar duduk-duduk minum wedang jahe, semua tersedia. Dan yang paling penting buat kita para ibu: jarak antar tempatnya gak jauh-jauh amat. Jadi gak perlu bangun jam 4 pagi cuma buat ngejar sunrise.
Itinerary ini gue susun berdasarkan pengalaman pribadi waktu jalan sama dua teman sesama ibu-ibu. Kami sepakat satu hal: gak ada jadwal yang terlalu padat. Kalau capek, ya istirahat. Kalau lapar, ya makan. Simpel.
Baca juga: Akhir Pekan Pertama Bawa Bayi: Pantai atau Kebun Raya?
Hari 1-2: Kenalan Dulu Sama Kotanya
Sampai di Jogja, jangan langsung ngegas ke candi. Hari pertama itu buat adaptasi. Cek in dulu di penginapan, terus keluar cari makan. Kalau kamu nginep di area Malioboro atau Prawirotaman, jalan kaki aja udah banyak pilihan.
Malam pertama, coba susuri Malioboro pelan-pelan. Gak usah beli apa-apa kalau gak perlu. Cukup nikmatin suasananya. Duduk di trotoar sambil makan jagung bakar, dengerin musik jalanan. Kadang yang kayak gini yang paling bikin hati adem, ya kan?
Hari kedua, baru mulai serius. Pagi-pagi ke Keraton Yogyakarta. Masuknya murah, dan kamu bisa lihat langsung bagaimana budaya Jawa masih hidup di sana. Setelah itu, jalan kaki ke Taman Sari yang jaraknya cuma sekitar 15 menit. Kalau capek, naik becak aja, sekitar Rp20.000.
Tips dari gue: pakai sepatu yang nyaman. Jangan pakai sandal jepit kayak yang gue lakuin. Kaki gue kapok.
Sore harinya, istirahat di penginapan. Jangan memaksakan diri. Besok masih banyak yang harus dijelajahi.
Hari 3-4: Saatnya ke Candi dan Alam
Hari ketiga, kamu bisa ke Borobudur. Tapi jangan yang sunrise tour ya, kecuali kamu memang tim bangun subuh. Kalau gue sih, lebih milih berangkat jam 7 pagi. Sampai sana sekitar jam 8, masih sepi, dan matahari belum terlalu terik.
Dari Borobudur, mampir ke Desa Wisata Candirejo. Di sini kamu bisa naik dokar atau sepeda keliling desa. Suasananya pedesaan banget, jauh dari hiruk pikuk. Beberapa ibu yang gue ajak ke sini sampai bilang, "Ini kayak pulang ke kampung halaman sendiri."
Hari keempat, baru ke Prambanan. Bedanya sama Borobudur, Prambanan lebih dekat dari kota, sekitar 30 menit naik mobil. Sore hari adalah waktu terbaik ke sini karena matahari gak terlalu menyengat. Kalau beruntung, kamu bisa lihat pertunjukan Ramayana di malam hari.
Catatan soal transportasi
Selama di Jogja, gue saranin sewa mobil plus driver. Buat berempat, biayanya sekitar Rp500.000-600.000 per hari. Kedengeran mahal, tapi kalau dibagi empat orang, jatuhnya gak terlalu berat. Dan yang paling penting: kamu gak perlu mikirin parkir, macet, atau nyasar.
Hari 5: Kulineran dan Belanja Oleh-oleh
Hari ini santai aja. Pagi-pagi coba gudeg di daerah Wijilan. Jangan yang di restoran besar, cari yang warungnya sederhana. Rasanya lebih autentik, dan harganya jauh lebih ramah.
Setelah itu, jalan-jalan ke Pasar Beringharjo. Ini surganya belanja batik dan oleh-oleh. Tapi ingat, jangan langsung beli di kios pertama. Keliling dulu, bandingin harga. Pengalaman gue, selisihnya bisa sampai 40 persen lho.
Siangnya, coba sate klathak di daerah Pleret. Ini sate yang ditusuk pakai jeruji besi, bukan tusuk bambu. Unik, dan rasanya beneran beda. Kalau kamu gak suka daging kambing, bisa minta yang ayam.
Malam terakhir di Jogja, gue saranin makan di angkringan. Duduk lesehan, pesan nasi kucing, tempe bacem, dan wedang jahe. Total buat berempat mungkin gak sampai Rp50.000. Murah, kenyang, dan suasananya bikin nostalgia.
Hari 6-7: Waktunya Healing di Pantai Selatan
Hari keenam, ajak diri sendiri ke Pantai Timang atau Pantai Parangtritis. Kalau ke Timang, kamu bisa naik gondola tradisional yang ditarik manual. Serem? Iya. Tapi pengalamannya gak akan kamu lupakan.
Kalau gak mau yang terlalu ekstrem, Parangtritis aja. Duduk di atas pasir, dengerin deburan ombak, dan gak usah mikirin apa-apa. Kadang yang kita butuhkan cuma itu, kan? Ruang buat bernapas tanpa siapa-siapa minta perhatian.
Hari terakhir, pakai buat packing dan jalan santai terakhir. Mampir ke kedai kopi di Prawirotaman, atau beli bakpia pathok buat keluarga di rumah. Jangan lupa siapin baju kotor dan oleh-oleh di koper yang berbeda biar gak ribet di bandara.
Nah, itu dia rencana 7 hari di Jogja yang gue rasa pas banget buat ibu rumah tangga. Gak muluk-muluk, gak bikin capek, tapi tetap berkesan. Yang paling penting bukan seberapa banyak tempat yang kamu kunjungi, tapi seberapa hadir kamu menikmatinya.
Kalau kamu punya rencana serupa, coba mulai dari yang paling sederhana: tentukan tanggal, ajak satu atau dua teman, dan sisihkan budget sedikit demi sedikit. Liburan gak harus mewah. Yang penting kamu bahagia, dan pulang dengan cerita yang bisa kamu bagi ke anak-anak di rumah.