Dua tahun lalu gue nekat ikut trip ke Bromo bareng empat orang teman kampus. Modal nekat, dompet tipis, dan modal percaya sama Google Maps. Hasilnya? Kita kedinginan di Penanjakan karena nggak bawa jaket tebal, kehabisan uang buat makan di hari kedua, dan hampir ketinggalan bus pulang gara-gara nggak tahu jadwal terakhir. Pulang dari trip itu, gue sadar satu hal: jadi anak rantau yang doyan jalan itu bukan soal punya banyak uang, tapi soal tahu apa yang harus disiapin sebelum berangkat.
Nah, dari pengalaman gagal itu (plus beberapa trip yang akhirnya lancar), gue mau bagi checklist yang sekarang selalu gue pakai sebelum berangkat. Bukan checklist ribet ala travel agent, tapi yang realistis buat mahasiswa perantau yang uangnya pas-pasan dan waktunya mepet sama jadwal kuliah.
1. Cek Dompet dan Tanggal Gajian Sebelum Ngode Teman
Ini yang paling sering kelewat. Kita semangat ngajak teman trip duluan, baru mikirin budget belakangan. Padahal sebagai perantau, kamu punya dua sumber dana: kiriman orang tua dan sisa uang bulanan yang harus dibagi buat kos, makan, dan kuota. Sebelum ngajak siapa-siapa, hitung dulu berapa yang benar-benar bisa kamu sisihkan tanpa bikin kamu makan mie instan seminggu.
Gue biasanya pakai aturan sederhana: budget trip maksimal 30 persen dari uang bulanan yang tersisa setelah bayar kos dan kebutuhan pokok. Kalau kurang dari itu, mending pilih destinasi dekat dulu. Nggak usah malu trip ke tempat yang dekat. Banyak kok tempat menarik di sekitar kampus yang belum kamu jelajahi.
Baca juga: Cerita Jalan-Jalan yang Bikin Warung Kopi Saya Makin Laris
2. Pilih Destinasi yang Masuk Akal Buat Kantong Mahasiswa
Nggak semua tempat menarik di Indonesia itu mahal. Justru banyak destinasi yang ramah buat kantong mahasiswa, asal kamu mau riset sedikit. Beberapa yang gue rekomendasikan berdasarkan pengalaman:
- Malang dan Batu: dekat dari banyak kampus di Jawa Timur, transportasi murah, banyak penginapan harga mahasiswa.
- Yogyakarta: klasik tapi nggak pernah salah. Kuliner murah, transportasi umum oke, banyak spot gratis.
- Bandung: cocok buat yang suka udara sejuk dan jalan-jalan ke Lembang tanpa harus naik gunung.
- Karimunjawa: lebih mahal dari tiga di atas, tapi kalau nabung dua bulan, masih terjangkau buat trip bareng.
Intinya, sesuaikan destinasi sama isi dompet, bukan sama isi feed Instagram orang lain. Percaya deh, trip ke tempat sederhana bareng teman yang seru itu lebih berkesan daripada trip mahal tapi kamu stres mikirin utang.
3. Susun Itinerary yang Fleksibel, Bukan Jadwal Ala Kantor
Gue pernah bikin itinerary yang terlalu detail: jam 6 bangun, jam 7 sarapan di tempat A, jam 8 sampai spot B, dan seterusnya. Hasilnya? Stress sendiri karena tiap kali ada yang meleset, semua jadwal jadi kacau. Sekarang gue lebih suka bikin itinerary versi santai: tentukan spot utama per hari, sisanya biarkan mengalir.
Format itinerary yang gue pakai sekarang
Per hari, gue cuma catat tiga hal: satu destinasi wajib, satu tempat makan yang pengen dicoba, dan satu aktivitas santai. Sisanya bebas. Dengan begini, kalau ada perubahan di lapangan, kamu nggak panik. Fleksibilitas itu penting banget buat perantau yang kadang harus menyesuaikan diri dengan cuaca, kondisi jalan, atau teman yang mendadak mabuk perjalanan.
4. Bawa Perlengkapan yang Beneran Kepakai
Ini pelajaran mahal dari trip Bromo gue. Bawa jaket tebal, obat-obatan pribadi, power bank, dan uang tunai secukupnya. Jangan mengandalkan sinyal atau ATM di lokasi wisata, apalagi kalau kamu ke tempat yang agak terpencil. Beberapa hal yang wajib masuk tas:
- Jaket atau outer tipis, karena cuaca di banyak tempat wisata Indonesia nggak bisa ditebak.
- Obat pribadi dan P3K kecil, minimal obat sakit kepala dan obat maag.
- Power bank dan kabel cadangan.
- Uang tunai, jangan cuma andalkan dompet digital.
- Botol minum, biar nggak boros beli air kemasan terus.
Perlengkapan yang beneran kepakai itu lebih berharga daripada tas penuh barang yang nggak pernah disentuh sepanjang trip.
5. Kabarin Orang yang Perlu Tahu
Sebagai perantau, kamu jauh dari orang tua. Kabarin mereka soal rencana trip, minimal kasih tahu tujuan, tanggal berangkat, dan tanggal pulang. Ini bukan soal kamu masih dianggap anak kecil, tapi soal tanggung jawab. Kalau ada apa-apa di jalan, setidaknya ada orang yang tahu harus menghubungi siapa.
Selain orang tua, kasih tahu juga teman kos atau teman dekatmu. Simpan nomor darurat yang relevan, seperti nomor pengelola penginapan atau kontak teman yang tinggal dekat destinasi. Gue pernah kehilangan dompet di Yogyakarta dan yang nyelametin gue justru teman kampus yang kebetulan lagi di sana. Kalau nggak sempat kabarin, bisa-bisa gue stranded.
6. Siapin Rencana Pulang, Bukan Cuma Rencana Berangkat
Banyak orang sibuk ngurusin keberangkatan sampai lupa mikirin cara pulang. Padahal tiket pulang itu sama pentingnya dengan tiket pergi. Cek jadwal bus, kereta, atau penerbangan terakhir jauh-jauh hari. Jangan sampai kamu terjebak di kota orang karena nggak ada transportasi pulang, apalagi kalau uangmu sudah menipis di hari terakhir.
Gue selalu pesan tiket pulang di hari pertama trip, bahkan sebelum berangkat. Dengan begitu, gue punya patokan waktu yang jelas dan nggak kalap belanja oleh-oleh sampai lupa waktu. Ini juga bikin orang tua tenang karena tahu kamu bakal pulang sesuai jadwal.
Jadi, buat kamu yang lagi kuliah di kota orang dan pengen jalan-jalan, ingat ya: jadi perantau itu bukan soal seberapa jauh kamu pergi, tapi seberapa siap kamu sebelum berangkat. Checklist di atas bukan jaminan trip sempurna, tapi setidaknya bisa bikin kamu pulang bawa cerita seru, bukan cerita gagal. Selamat jalan-jalan, dan jangan lupa kabarin orang tua!